Model Pembelajaran Scaffolding

Posted by Asrofy on 09:42

Model  pembelajaran scaffolding merupakan praktik yang didasarkan pada konsep Vygotsky tentang assisted learning. Ini merupakan teknik pemberian dukungan belajar yang pada tahap awal diberikan diberikan secara lebih terstruktur, kemudian secara berjenjang menuntun siswa ke arah kemandirian belajar. Vygotsky membatasi pembelajaran scaffolding sebagai peranan guru dalam mendukung perkembangan siswa dan menyediakan struktur dukungan untuk mencapai tahap atau level berikutnya.
Penggunaan strategi pembelajaran scaffolding bertujuan untuk mendorong siswa menjadi siswa yang mandiri dan mengatur diri sendiri (self regulating). Begiktu pengetahuan dan kompetensi belajar siswa meningkat, guru secara berangsur-angsur mengurangi pemberian dukugan. Jika siswa tidak mampu mencapai kemandirian, guru kembali ke sistem dukungan untuk membantu siswa memperoleh kemajuan sampai mereka mampu mencapai kemandirian.
Keuntungan strategi pembelajaran scaffolding dikemukakan oleh Bransford, Brown, dan Cocking (2000) sebagai berikut:
·         Memotivasi dan mengaitkan minat siswa dengan tugas belajar.
·         Menyederhanakan tugas belajar sehingga bisa lebih terkelola dan bisa dicapai oleh anak
·         Memberi petunjuk untuk membantu anak terfokus pada pencapaian tujuan.
·         Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak dan solusi standar atau yang diharapkan.
·         Mengurangi frustasi dan resiko.
·         Memberi model dan mendefinisikan dengan jelas harapan mengenai aktivitas yang akan dilakukan.
Hogan dan Pressley (1997) mengemukakan lima teknik pembelajaran scaffolding, yaitu:
1.  pemberian model perilaku yang diharapkan;
2.  pemberian penjelasan;
3.  mengundang siswa berpatisipasi;
4.  menjelaskan dan mengklarifikasi pemahaman siswa;
5.  mengundang siswa untuk mengemukakan pendapat.
Salah satu teknik yang digunakan adalah  pendekatan konstruktivis.Scaffoldingmerupakan teknik mengubah secara bertahap tingkat dukungan atau bimbingan yang diberikan oleh orang terlatih kepada siswa selama dalam rangkaian pengajaran (Santrock, 2009). Scaffoldingmemiliki tiga karakteristik umum, yaitu contingency atau yang disebut dengan dukungan yang dibedakan berdasarkan tingkat kemampuan siswa; fading atau penarikan bantuan secara bertahap; dan transfer of responsibility atau memindahkan tanggung jawab terhadap tugas kepada siswa secara bertahap.
Dalam pengaplikasiannya di kelas, terdapat tiga tingkatan Scaffolding (Anghileri, 2006). Tingkatan pertama adalah saat proses pembelajaran yang dapat berlangsung tanpa adanya intervensi langsung dari guru. Dalam tingkatan ini, terdapat alat penunjang pembelajaran dan penyusunan ruang yang melibatkan pengaturan tempat duduk serta kondisi lingkungan kelas. Pada tingkatan ini, guru memberikan tugas berstruktur dan memberikan umpan balik pada siswa untuk menemukan solusi dan merefleksikan proses dalam solusi tersebut.
Tingkatan kedua Scaffolding adalah dengan adanya interaksi langsung antara guru dengan siswa yang dikaitkan dengan materi pelajaran yang akan diberikan di kelas. Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar di kelas, guru sedikit menjabarkan materi yang akan dipelajari. Saat materi selesai dijelaskan di dalam kelas, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menggali pemahamannya sendiri mengenai materi yang telah disampaikan. Lima karakteristik yang ada dalam interaksi ini adalah mengarahkan siswa untuk melihat, menyentuh, mengucapkan apa yang ia lihat dan pikirkan; mengarahkan siswa untuk menjelaskan; menginterpretasi apa yang dilakukan dan dikatakan siswa; menggunakan pertanyaan yang memancing. Selain itu, dalam tahapan ini, guru juga berusaha untuk menunjukkan modifikasi atau alternatif lain dalam menjelaskan materi agar dapat diterima secara lebih sederhana oleh siswa di kelas. Interaksi yang terjadi dalam kegiatan seperti ini adalah menetukan arti dari situasi yang abstrak, menyederhanakan masalah, menyampaikan materi dengan cara yang lebih diterima oleh siswa, dan menegosiasikan pemahaman terhadap siswa.
Tingkatan ketiga Scaffolding adalah kegiatan belajar mengajar yang menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir konseptual. Dalam tingkatan ini, siswa mendapatkan dukungan untuk membangun, mengembangkan, dan menghasilkan wacana konseptual.
Sebagai salah satu teknik yang menggunakan konsep pendekatan konstruktivis, Scaffolding tidak dapat digunakan dengan cara yang sama di setiap situasi. Oleh karena itu, biasanya teknik ini digunakan untuk mengajarkan materi yang dianggap baru dan sulit bagi anak-anak. Salah satu mata pelajaran yang dapat menggunakan teknik ini dalam kegiatan belajar mengajar adalah matematika.
Model pembelajaran matematika dapat dilihat pada hubungan interaksi antara pembelajar dan  peserta didik. Jika pembelajar lebih banyak berperan maka pembelajaran lebih pada metode ceramah atau ekspositari (teacher centered ), sedang bila peserta didik lebih dominan maka lebih ke arah pembelajaran inquiri ( student centered ). Model pembelajaran satu arah ini merupakan kasus ekstrim yang tentu tidak cocok untuk kebanyakan peserta didik. Maka diperlukan batasan seberapa jauh “dukungan pembelajar” dan seberapa jauh “kebebasan peserta didik” dalam proses pembelajaran. Pengertian istilah  scaffolding  berasal dari istilah ilmu teknik sipil yaitu berupa  bangunan kerangka sementara atau penyangga (biasanya terbuat dari bambu, kayu, atau batang  besi) yang memudahkan pekerja membangun gedung. Metapora ini harus secara jelas dipahami agar kebermaknaan pembelajaran dapat tercapai. Sebagian pakar pendidikan mendefinisikan scaffolding  berupa bimbingan yang diberikan oleh seorang pembelajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dengan persoalan-persoalan terfokus dan interaksi yang bersifat  positif.Scaffolding diartikan ke dalam bahasa Indonesia “perancah”, yaitu bambu (balok dsb)yang dipasang untuk tumpuan ketika hendak mendirikan rumah, membuat tembok, dan sebagainya (Poerwadarminta, 1983; 735)
Lange (2002) menyatakan bahwa ada dua langkah utama yang terlibat dalam scaffolding   pembelajaran: (1) pengembangan rencana pembelajaran untuk membimbing peserta didik dalam memahami materi baru, dan (2) pelaksanaan rencana, pembelajar memberikan bantuan kepada  peserta didik di setiap langkah dari proses pembelajaran.
Scaffolding terdiri dari beberapa aspek khusus yang dapat membantu peserta didik dalam internalisasi penguasaan pengetahuan. Berikut aspek-aspek scaffolding :
·         Intensionalitas: Kegiatan ini mempunyai tujuan yang jelas terhadap aktivitas  pembelajaran berupa bantuan yang selalu didiberikan kepada setiap peserta didik yang membutuhkan.
·         Kesesuaian: Peserta didik yang tidak bisa menyelesaikan sendiri permasalahan yang dihadapinya, maka pembelajar memberikan bantuan penyelesaiannya.
·         Struktur: Modeling dan mempertanyakan kegiatan terstruktur di sekitar sebuah model  pendekatan yang sesuai dengan tugas dan mengarah pada urutan alam pemikiran dan  bahasa.
·         Kolaborasi: Pembelajar menciptakan kerjasama dengan peserta didik dan menghargai karya yang telah dicapai oleh peserta didik. Peran pembelajar adalah kolaborator bukan sebagai evaluator.
·         Internalisasi: Eksternal scaffolding  untuk kegiatan ini secara bertahap ditarik sebagai  pola yang diinternalisasi oleh peserta didik (hal. 6).
Larkin (2002) menyatakan scaffolding  salah satu prinsip pembelajaran yang efektif yang memungkinkan para pembelajar untuk mengakomodasikan kebutuhan peserta didik masing-masing. Istilah ini juga diperkenalkan oleh Reichgerlt, Shadbolt, Paskiewica, & Wood (1993) seperti dikutip oleh Zhao dan Orey (1999).
Dukungan terhadap peserta didik dalam menyelesaikan proses belajar dapat berupa keaktifan  peserta didik dalam proses pembelajaran, strategi pembelajaran, keragaman model pembelajaran,  bimbingan pengalaman dari pembelajar, fasilitas belajar, dan iklim belajar peserta didik dari orang tua di rumah dan pembelajar di sekolah. Dukungan belajar yang dimaksud di sini adalah dukungan yang bersifat konkrit dan abstrak sehingga tercipta kebermaknaan proses belajar  peserta didik.
Pembelajar tidak diharuskan memiliki semua pengetahuan, tetapi hendaknya memiliki  pengetahuan yang cukup sesuai dengan yang mereka perlukan untuk memberi dukungan belajar kepada peserta didik, di mana memperolehnya, dan bagaimana memaknainya. Para pembelajar diharapkan bertindak atas dasar berpikir yang mendalam, bertindak independen dan kolaboratif satu sama lain, dan siap menyumbangkan pertimbangan-pertimbangan kritis. Para pembelajar diharapkan menjadi masyarakat memiliki pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam.Scaffolding  selalu digunakan untuk mendukung pembelajaran berbasis masalah (PBL) (Hoffman and Ritchie, 1997)
Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Scaffolding
Secara operasional, strategi pembelajaran scaffolding dapat ditempuh melalui tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut:
1.      Membangun rapport (hubugan baik) dengan subyek didik yang akan diajar, sebagai basis hubungan kerja. (Menjelaskan materi pembelajaran).
2.      Menetapkan fokus belajar. Guru perlu memperoleh persetujuan dari siswa mengenai tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapai dari setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Tujuan tersebut perlu secara eksplisit memuat kompetensi nurturant yang diharapkan terjadi dalam proses belajar. Guru juga perlu mencatat beberapa dimensi belajar, seperti: harapan, kebutuhan, minat, dan keuntungan.
3.      Mengecek hasil belajar sebelumnya (prior learning)
·         Mengecek harapan, kebutuhan, pengetahuan, dan pengalaman siswa.
·         Menetapkan titik awal memulai belajar baru.
·         Menetapkan zone proximal development (ZPD) atau level perkembangan berikut di atas level perkembangan saat kini untuk masing-masing siswa. Siswa kemudian dapat dikelompokkan menurut level perkembangan awal yang dimiliki dan atau yang membutuhkan ZPD yang relatif sama. Siswa dengan ZPD yang jauh berbeda dengan kemajuan rata-rata kelas dapat diberi perhatian khusus.
·         Mengupayakan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa sekarang menjadi lebih siap.
·         Menyiapkan pengalaman sebagai basis bagi proses belajar selanjutnya dan untuk mengecek kemandirian siswa menghadapi realitas.
·         Menyiapkan bahan untuk belajar ulang.
4.      Merancang dan menyiapkan tugas-tugas belajar (aktivitas belajar scaffolding)
·         Jabarkan secara eksplisit tujuan (harapan dan ekspektasi) dan kebijakan yang telah ditetapkan.
·         Spesifikasi aktivitas dan jadwal pelaksanaannya.
·         Masukkan pengertian mengenai kemajuan dan prestasi.
·         Organisir dan tentukan persyaratan-persyaratan yang diperlukan (sumber, perizinan, tanggung jawab, dan sebagainya).
5.      Melaksanakan tugas pembelajaran
·         Guru atau siswa menyiapkan scaffolding untuk aktivitas belajar.
·         Siswa bertindak dan mendapatkan serta memproses dan menyajikan (kembali) imformasi.
·         Memonitor kemajuan pelaksanaan tugas dan aktivitas.
·         Guru memediasi siswa melakukan tugas belajar.
6.      Memantau dan memediasi aktivitas dan belajar
·         Dorong siswa untuk bekerja dan belajar diikuti dengan pemberian dukungan seperlunya. Kemudian secara bertahap guru mengurangi dukungan langsungnya dan membiarkan siswa menyelesaikan tugas belajar secara mandiri.
·         Berikan dukungan dalam bentuk pemberian isyarat, kata kunci, tanda mata (reminders), dorongan, contoh, atau hal lain yang dapat memancing siswa bergerak ke arah kemandirian belajar dan pengarahan diri.
7.      Mengecek dan mengevaluasi hasil belajar
·         Melakukan refleksi terhadap aktivitas, proses, produk, pengalaman dan belajar.
·         Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh: apakah siswa bergerak ke arah kemandirian dan pengaturan diri dalam belajar.
·         Efektivitas proses belajar yang digunakan.
·         Diri siswa sebagai pebelajar (kesadaran, hambatan-hambatan internal apa yang dihadapi siswa dalam belajar dan mencapai kemandirian dalam belajar).
8.      Mendorong dilakukannya transferensi belajar
·         Mengenali peluang-peluang yang bisa digunakan untuk mentransfer belajar.
·         Mendorong siswa melakukan pengaturan diri dalam belajar (self regulating learning).

·         Memantau kemajuan siswa dalam melakukan aktivitas belajar mandiri.

Model Pembelajaran Scaffolding
Posted at: 09:42

0 comments:

Post a Comment

MS